Haji di Masa Kolonial, Bagaimana?
Banyak artikel sudah menceritakan bagaimana nasib berhaji di zaman kolonial. Sekarang, saya akan menyampaikan beberapa opini tentang semua sejarah tersebut. Haji pada masa kolonial sungguh menyusahkan. Bahkan, Belanda mengeluarkan peraturan haji, salah satunya bernama ordonansi. Katanya, Belanda takut jika masyarakat pribumi pergi berhaji, ia akan mendapat sebuah pemikiran baru dan menentang kolonialisme. Sehingga pada zaman itu, biaya untuk menunaikan haji sangat tinggi, dan Belanda menuntut menuntut jamaah haji untuk mendapatkan paspor dan membayar pajak kepada Belanda. Hal ini juga memungkinkan Belanda mengawasi kegiatan jamaah selama di tanah suci.
Bahkan, Belanda juga sedang berusaha untuk memonopoli para jamaah. Bisakah dibayangkan bagaimana rasanya? Kita patut bersyukur sudah merdeka, bebas. Belanda juga mengeluarkan peraturan baru, yaitu mengharuskan para jamaah haji untuk memiliki tiket pergi-pulang. Ketentuan tersebut mungkin sedikit memungkinkan sebuah keuntungan bagi perusahaan pengangkut haji.
Pengawasan Belanda terhadap jamaah haji semakin parah. Pada saat itu, Belanda mengeluarkan aturan untuk mengumpulkan para calon
haji dan mereka yang selesai berhaji di sebuah pulau bernama Onrust.
“Nama ‘Onrust’ diambil dari bahasa Belanda yang artinya ‘Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya ‘Unrest’. Saya kurang setuju, sebagai seorang manusia, kita diajarkan untuk menghormati sesama, meskipun terdapat perbedaan besar di antara umat manusia.
Sebenarnya, pada saat itu, sudah seharusnya Belanda lepas tangan dari urusan keagamaan dan menghilangkan kecurigaan. Memang, umat muslim pergi berhaji ke tanah suci bertujuan untuk beribadah. Untuk apa pergi berhaji apabila tidak untuk beribadah?
Namun, sekali lagi, kita sudah seharusnya bersyukur. Bisa pergi berhaji, tanpa harus menderita seperti pada zaman kolonial. Kecurigaan muncul di sana-sini. Orang tak bersalah pun harus jadi korbannya. Namun sekarang? Kita sudah bebas. Sebagai umat muslim, kita dianjurkan untuk melaksanakan rukun Islam yang terakhir, yaitu berhaji bagi yang mampu. Siapa yang tidak bahagia menjadi tamu Allah? Bahkan, do'a lebih mudah terkabulkan jika berdoa di tanah suci.
Namun, pada akhirnya, dibangunlah sebuah Rumah dokter di pulau tersebut. Rumah dokter yang ditugaskan memeriksa kesehatan jamaah haji pada
masa kolonial di Pulau Onrust, saat ini telah dijadikan museum.
Dibuatnya embarkasi dan karantina haji ini sejatinya merupakan taktik
Belanda untuk menekan pengaruh ulama-ulama pada masa itu. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memastikan
kondisi kesehatan para calon haji agar bisa tetap sehat selama melakukan
perjalanan ke Tanah Suci. Pulau Onrust tak hanya menampung mereka yang hendak
berangkat haji. Para jamaah yang baru selesai berhaji pun ditampung di
sana.
rujukan, sumber : https://bunganarjis.wordpress.com/2014/03/25/haji-di-zaman-kolonial/comment-page-1/#comment-8
Minggu, 18 September 2016
Sejarah, Arti, dan Hikmah Dibalik Hari Raya Iduladha dan Qurban
Kita sebagai umat muslim, pasti sudah mengerti apa itu Hari Raya Iduladha. Hari Raya Iduladha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Pada tanggal tersebut, umat muslim melakukan Salat Ied di pagi hari, seperti pada Hari Raya Idul Fitri. Nah, sebenarnya, apa itu Iduladha? Bagaimana sejarah awal diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban pada Hari Raya Iduladha? Apa maknanya? Bagaimana kita memperingatinya sebagai umat muslimin? Mari kita lihat lebih dalam!
Sejarah Awal Idul Adha
Awal mula sejarah Iduladha, dijelaskan secara singkat dalam QS. As-Shoffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ
السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا
تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya : Maka tatkala anak
itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Pada suatu malam, Nabi Ibrahim mendapatkan sebuah mimpi. Mimpi tersebut berisi tentang perintah Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail. Dari mimpi tersebut lah, Nabi Ibrahim mendiskusikan hal tersebut kepada putranya. "Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?".
Ismail menjawab, "Wahai Ayah, laksanakan perintah Allah yang diberikan untukmu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dan patuh." Nabi Ismail juga meminta bahwa pertama, dalam penyembelihan tersebut, ia harus diikat kuat-kuat agar ia tidak banyak bergerak dan menyusahkan ayahnya, kedua, ia meminta ayahnya untuk menanggalkanlah pakaiannya agar tidak terkena darah dan mengurangi pahalanya, ketiga, ia meminta ayahnya untuk menajamkan pisaunya, agar ia tidak terlalu banyak merasakan pedih, dan yang terakhir, ia meminta ayahnya untuk menyampaikan salam kepada ibunya dan memberikan pakainnya sebagai penghibur untuk tidak bersedih. Nabi Ibrahim yang mendengarnya langsung mencium pipinya, dan berkata "Bahagialah aku yang memiliki seorang putra yang taat kepada Allah dan kepada orang tuanya."
Ismail menjawab, "Wahai Ayah, laksanakan perintah Allah yang diberikan untukmu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dan patuh." Nabi Ismail juga meminta bahwa pertama, dalam penyembelihan tersebut, ia harus diikat kuat-kuat agar ia tidak banyak bergerak dan menyusahkan ayahnya, kedua, ia meminta ayahnya untuk menanggalkanlah pakaiannya agar tidak terkena darah dan mengurangi pahalanya, ketiga, ia meminta ayahnya untuk menajamkan pisaunya, agar ia tidak terlalu banyak merasakan pedih, dan yang terakhir, ia meminta ayahnya untuk menyampaikan salam kepada ibunya dan memberikan pakainnya sebagai penghibur untuk tidak bersedih. Nabi Ibrahim yang mendengarnya langsung mencium pipinya, dan berkata "Bahagialah aku yang memiliki seorang putra yang taat kepada Allah dan kepada orang tuanya."
Pada saat Ismail hendak disembelih, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing di sampingnya. Maka, pada saat itulah muncul perintah untuk menyembelih hewan qurban saat Hari Raya Iduladha.
Arti dari Qurban
Qurban secara bahasa dari kata qaraba - yuqarribu - qurbanan yang berarti mendekatkan. Secara istilah berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyembelih hewan qurban pada saat Hari Raya Iduladha.
Hikmah Dibalik Qurban
- Untuk menguji ketaqwaan kepada Allah SWT
- Menjaga fitrahnya tetap suci
- Berjiwa sosial, ditandai dengan membagikan daging hewan qurban kepada sesama
Rujukan : http://tugas-agama.blogspot.co.id/p/cerita-bersejarah-tentang-nabi-ibrahim.html
Langganan:
Komentar (Atom)

