Minggu, 18 September 2016

Haji di Masa Kolonial, Bagaimana?

Banyak artikel sudah menceritakan bagaimana nasib berhaji di zaman kolonial. Sekarang, saya akan menyampaikan beberapa opini tentang semua sejarah tersebut. Haji pada masa kolonial sungguh menyusahkan. Bahkan, Belanda mengeluarkan peraturan haji, salah satunya bernama ordonansi. Katanya, Belanda takut jika masyarakat pribumi pergi berhaji, ia akan mendapat sebuah pemikiran baru dan menentang kolonialisme. Sehingga pada zaman itu, biaya untuk menunaikan haji sangat tinggi, dan Belanda menuntut menuntut jamaah haji untuk mendapatkan paspor dan membayar pajak kepada Belanda. Hal ini juga memungkinkan Belanda mengawasi kegiatan jamaah selama di tanah suci. 

Bahkan, Belanda juga sedang berusaha untuk memonopoli para jamaah. Bisakah dibayangkan bagaimana rasanya? Kita patut bersyukur sudah merdeka, bebas. Belanda juga mengeluarkan peraturan baru, yaitu mengharuskan para jamaah haji untuk memiliki tiket pergi-pulang. Ketentuan tersebut mungkin sedikit memungkinkan sebuah keuntungan bagi perusahaan pengangkut haji. 

Pengawasan Belanda terhadap jamaah haji semakin parah. Pada saat itu, Belanda mengeluarkan aturan untuk mengumpulkan para calon haji dan mereka yang selesai berhaji di sebuah pulau bernama Onrust. “Nama ‘Onrust’ diambil dari bahasa Belanda yang artinya ‘Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya ‘Unrest’. Saya kurang setuju, sebagai seorang manusia, kita diajarkan untuk menghormati sesama, meskipun terdapat perbedaan besar di antara umat manusia. 

Sebenarnya, pada saat itu, sudah seharusnya Belanda lepas tangan dari urusan keagamaan dan menghilangkan kecurigaan. Memang, umat muslim pergi berhaji ke tanah suci bertujuan untuk beribadah. Untuk apa pergi berhaji apabila tidak untuk beribadah? 

 Namun, sekali lagi, kita sudah seharusnya bersyukur. Bisa pergi berhaji, tanpa harus menderita seperti pada zaman kolonial. Kecurigaan muncul di sana-sini. Orang tak bersalah pun harus jadi korbannya. Namun sekarang? Kita sudah bebas. Sebagai umat muslim, kita dianjurkan untuk melaksanakan rukun Islam yang terakhir, yaitu berhaji bagi yang mampu. Siapa yang tidak bahagia menjadi tamu Allah? Bahkan, do'a lebih mudah terkabulkan jika berdoa di tanah suci. 

Namun, pada akhirnya, dibangunlah sebuah Rumah dokter di pulau tersebut. Rumah dokter yang ditugaskan memeriksa kesehatan jamaah haji pada masa kolonial di Pulau Onrust, saat ini telah dijadikan museum. Dibuatnya embarkasi dan karantina haji ini sejatinya merupakan taktik Belanda untuk menekan pengaruh ulama-ulama pada masa itu. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memastikan kondisi kesehatan para calon haji agar bisa tetap sehat selama melakukan perjalanan ke Tanah Suci. Pulau Onrust tak hanya menampung mereka yang hendak berangkat haji. Para jamaah yang baru selesai berhaji pun ditampung di sana.


      
rujukan, sumber : https://bunganarjis.wordpress.com/2014/03/25/haji-di-zaman-kolonial/comment-page-1/#comment-8

  

0 komentar:

Posting Komentar