DIBALIK 17 AGUSTUS
Oleh : Berliana Dewi Balqis
Nenek memperbaiki posisi duduknya. "Sa, dulu itu ya, kakek kamu masih
ingat kan?" Nenek mulai bercerita. Satria mengangguk tanda ia mengingat.
"Dulu, kakek kamu seorang tentara pembela tanah air kita lho!" Mata nenek berbinar-binar. "Dulu itu... kakek mu keren bangeettttt.... nenek sampai terpesona lho! Seragam TNI nya itu lho... aduh sesuatu deh!" Aku hanya tersenyum menahan tawa, nenek yang sedang bercerita tidak peduli, melanjutkan ceritanya.
---
Malam berganti pagi. Matahari masuk melewati celah-celah jendela kamarku, menyapa raga yang tergeletak nyenyak di pulau kapuk yang takrindu kedatangannya saat ini. Kalau sudah begini, ia menyesal karena semalam begadang menonton televisi. Tetapi, mau bagaimana lagi? tendangan pesepak bola favoritnya sudah membiarkan dirinya duduk di depan televisi semalam sambil menjerit-jerit karena tim favoritnya menang pertandingan. Sunyi malam sudah pecah, bulan dan bintang menyuruh diam tetapi dia mengelak. Alhasil, hari ini matanya seperti tertindih, tak mau dibuka.
Seseorang menerobos paksa masuk ke dalam kamarnya. Daster ungunya berhembus, hampir separuh wajahnya tertutup rambut putihnya. "Bangun!!! Sekolah!! MasyaAllah!!!!! Jaman nenek dulu jam segini sudah pergi ke sawah macul, nanti kalau panen dijual ke pasar! Ndak seperti kamu, nak! Alamak anak jaman sekarang!" suara menggelegar menghancurkan mimpi indah anak berumur 14 tahun tersebut. Anak itu hanya melirik, diam, dan kembali berlayar kembali ke pulau kapuk. Tidak diam, wanita berusia enam kali umurnya itu melanjutkan kata-katanya. "No uang jajan," Tiga kata singkat, namun menusuk hati, memaksanya untuk berdiri, melanjutkan aktivitas. Wanita yang biasa dipanggilnya "Nenek" itu tertawa penuh kemenangan diikuti senyuman sang surya. Ia kembali ke aktivitas pokoknya, memasak.
"Sasa." Ya, Sasa, begitulah panggilan karib anak laki-laki 14 tahun tersebut. Laki-laki, namun ia memiliki nama kecil seperti milik seorang anak perempuan. Sebenarnya, Ia bernama Satria, nama yang gagah. Ia tidak bersifat seperti perempuan, ia lelaki sejati. Hanya neneknya saja yang dari awal ia kecil memanggilnya seperti itu. Neneknya senang bersandiwara. Namun hal seperti itu tidak membuatnya naik darah seperti kebanyakan anak laki lainnya. Saat ini, ia ditemani oleh neneknya. Orangtuanya berkerja di luar kota, dan menitipkan anak semata wayangnya itu kepada nenek Satria. Anak laki-laki yang dipanggil Sasa menoleh ke arah seseorang. "Ya, nek?" Ia siap mendengarkan lawan bicaranya. Air masih menetes dari ujung rambutnya, terjun mengikuti gravitasi, menghantam lantai, terpecah. "Keringkan dulu rambutmu, pakai seragammu, segera sarapan setelah itu, mengerti?" Neneknya mengacungkan sutil di tangan kanannya, menyuruh anak itu untuk bergegas. Sasa hanya mengangguk mengerti, tak pernah melawan seperti biasa, patuh.
---
Lima menit, wanita berkeriput menyuruh Satria duduk di depannya, di meja makan. Sepiring nasi lengkap dengan segala perlengkapannya dan segelas susu sudah siap dilahap. "Cepatlah makan! Segera pergi ke sekolah! Kalau sudah waktunya pulang, ndak usah sepak bola! Pulang saja!" Nenek di depan Satria berceramah seperti biasa. Anak itu mendengarkan, tetapi tidak menjawab sekatapun.
"Sat, Satria!!" Jaya dan Dani, teman karib Sasa, sudah menunggu tepat di depan pagar rumahnya, seperti antar jemput saja. "Nek, sekolah dulu, nanti Sasa langsung pulang deh," Satria mengucap janji pada neneknya. Neneknya hanya tersenyum seperti membatin, Aduh senangnya punya cucu ganteng cakep keren patuh pula, jadi makin sayang.
Ketiga sahabat karib itu berjalan beriringan menuju sekolah. Sampai di gerbang sekolah, mereka langsung menuju kelas, tanpa berbelok ke sana ke mari. Bu Rani, guru Bahasa Indonesia, mengawali pelaran awal hari ini. "Aduh, Bahasa Indonesia nih! Kata anak kelas sebelah, kita bakalan di kasih tugas ngarang cerita! Aduh, mampus!" Yati, tukang gosip di kelas Satria sudah membuat heboh satu kelas. Seperti biasa, saat Satria masuk kelas, Yati berbinar-binar. "Hai, Satria, hari ini cerah sekali ya? Have a nice day, Satria," Yati melempar senyuman lebar ke arah Satria. Ya, bisa dimaklumi, namanya Satria, sifatnya seperti bidadara, pasti bisa memikat hati wanita. Satria hanya melirik, diam saja. Yati biasa saja, sudah biasa, batinnya.
Bu Rani, seperti yang disebut Yati tadi, masuk ke kelas. Sepatu hak tingginya mengeluarkan suara, membuat hening seluruh isi kelas. "Selamat pagi, semua," wanita anggun itu memulai pelajaran hari ini. Seperti biasa, pelajaran berlanjut normal. Tugas selalu dikerjakan oleh murid-murid dan selesai, membuat kagum seluruh manusia. Pasti jarang sekali ditemukan kelas seperti ini di sini, sungguh langka.
"Ya, anak-anak. Tugas di rumah..." Belum selesai mengatakan. Terdengar beberapa keluhan di antara para murid-murid. "Yahh... Benar juga kata Si Yati," Seseorang berkata, yang lain mengiyakan. "Mengarang cerita bertema 'Hari Kemerdekaan'," kalimat pertama. "Di kertas folio," kedua. "Harus bolpoin, tidak ada tipe-ex," Ketiga. "Tidak ada yang memakai pensil, harus bolpoin murni dari awal," Keempat. "Dikumpulkan besok, di meja saya," Kalimat terakhir. Semua siswa diam, tidak percaya akan menerima takdir tugas seperti itu.
---
Bel sekolah berdering, memberitahukan bahwa sekarang waktunya pulang. Murid satu kelas Satria heboh mendiskusikan tugas Bahasa Indonesia yang diberikan Bu Rani. Satria diam mendengarkan kehebohan teman-temannya, termasuk Jaya dan Dani. "Sat, santai banget??? Nggak heboh sama tugas Bu Rani? Killer kalau ngasih tugas!" Dani menghampiri Satria. "Ya, heboh sih, tetapi di dalam hati aja," Jawab Satria santai, tanpa rasa berdosa. Dani melotot tidak percaya akan jawaban temannya itu. "Dalam hati??!! Maksud situ apa?" Tanya Jaya heran. Satria hanya diam, tidak menjawab. Dua sahabat di depannya membatin, dasar orang jenius.
Semua siswa berhamburan keluar kelas, meninggalkan bangku-bangku kosong di setiap kelas. "Sat, nanti sekolah main bola nggak?" Ujar Jaya mengawali pembicaraan berjalan mereka. "Nggak. Saya capek, mau pulang." Jawab Satria singkat. "Memangnya kamu mau ngapain? Tugas Bu Rani mau kamu kerjakan?" Tanya Dani. Satria mengangguk santai. "Rajin banget! Kamu anak siapa toh???" Kedua sahabat karib anak jenius itu melonjak kaget, melotot tidak percaya. "Biasa saja kalau lihat saya. Saya ya memang seperti ini." Jawab Satria santai. "SubhanAllah, Satria the best!" Ujar Jaya dan Dani terbelalak mendengar perkataan Satria. "Kalau kamu, Dan? Mau nggak? Seru lho! Hari ini, Toni juga ikut main!" Tawar Jaya kepada Dani. "Nggak deh, saya mau seperti Satria saja.Saya takut lupa ngerjain nanti!" Ujar Dani menjawab. Wajah Jaya masam. "Kalau begitu, aku iku saja deh! Kalau nggak ada kalian, aku nggak mau main juga! Kita harus fair." Ujar Jaya. Mereka bertiga terpisah di pertigaan jalan, melambai tangan satu sama lain.
"Wah! Sasa cepat pulang! Begini nih cucu idaman!" Nenek menyambut heboh Satria. Satria menium tangan nenek, dan langsung masuk ke dalam rumah. "Nek," Panggil Satria. Ia sudah mengganti baju. "Ya, cucu idaman? Ada apa?" Nenek memulai bergurau. Satria tidak peduli, baginya terserah saja mau memanggilnya dengan apapun, asalkan yang baik-baik saja. "Tugas dari guru, mengarang tentang 'Hari Kemerdekaan'. Satria nggak punya setetes inspirasi, Nek. Bisa bantu?" Satria memulai. "Loh? Masih ada juga tugas mengarang, padahal Sasa sudah besar," Ujar nenek sambil terkekeh. Satria diam hanya menunggu sebuah inspirasi mencul dari mulut neneknya.
Nenek memperbaiki posisi duduknya. "Sa, dulu itu ya, kakek kamu masih ingat kan?" Nenek mulai bercerita. Satria mengangguk tanda ia mengingat. "Dulu, kakek kamu seorang tentara pembela tanah air kita lho!" Mata nenek berbinar-binar. "Dulu itu... kakekmu keren bangeettttt.... nenek sampai terpesona lho! Seragam TNI nya itu lho... aduh sesuatu deh!" Aku hanya tersenyum menahan tawa, nenek yang sedang ceramah tidak peduli, melanjutkan ceritanya. "Banyak sekali bukan pahlawan negara kita yang meninggal bukan? Kakek kamu ingin sekali membela tanah air kita untuk membalas seluruh jasa pahlawan kita yang gugur. Kakek kamu, dulu adalah sahabat nenek mulai kecil. Ia senang sekali bercerita tentang pahlawan-pahlawan kepada nenek. Meskipun kakek kamu berbeda dua tahun dengan nenek, ia tidak pernah menyakiti nenek. Karena, cita-citanya menjadi seorang pahlawan. Bukan untuk dikenal, bukan untuk diingat orang banyak. Tetapi karena keinginannya melindungi tanah air kita." Cerita nenek membuat Satria terdiam, tidak berani memotong. Nenek terus melanjutkan ceritanya, tanpa berhenti sedetik pun, tanpa dipotong cucu idamannya itu. Ia terus bercerita mengenang masa lalunya.
"Kamu, cucu idaman, Satria. Harus menghargai perjuangan pahlawan kita, jangan disia-siakan. Kalau negara kita dijajah lagi, semua pasti susah kan? Lindungi negara kita, harumkan namanya. Buatlah negara ini makmur, jangan sampai dijajah lagi. Sebenarnya, kita bisa merayakan Hari Kemerdekaan dengan cukup berterima kasih kepada pahlawan. Dibalik 17 Agustus, banyak pertumpahan darah, banyak kesengsaraan. Bahkan ingin merdeka saja harus berani mati. Jaman dulu sengsara sekali, nenek sampai pernah hampir mati. Kamu sekarang hidup di jaman yang makmur, tidak dijajah seperti jaman nenek dulu. Dulu banyak sekali darah, pistol dan senjata api lainnya bahkan bom-bom. Suara teriakan terdengar dimana-mana. Bersyukurlah, Sa. Berjuanglah untuk membawa negara kita sejahtera." Nenek berbicara panjang lebar. Heening sejenak. "Ahh, Sa, panjang sekali cerita nenek, kamu pasti bosan. Nenek pergi belanja dulu ya, bye~ Assalamualaikum~" Nenek beranjak, pergi meninggalkan Satria. Anak laki-laki itu tersenyum, berterima kasih kepada neneknya, ia sudah menemukan inspirasi, 'Dibalik 17 Agustus 1945', 71 tahun yang lalu, hanya menghitung hari lagi, bertambah usia. Indonesia semangat.
---

1 komentar:
<3
Posting Komentar